Senin, 21 Oktober 2024

SEJARAH MOTOR YAMAHA RX KINGG

 SEJARAH YAMAHA RX KING



 Sejarah Perjalanan RX-King sang raja jalanan pada masa kejayaannya sangat menarik untuk Anda ketahui. Namun, sebeumnya alangkah lebih baiknya jika anda mengetahui perbedaan motor 2 tak dan 4 tak serta apa saja kelebihannya agar lebih memahami tentang motor legendaris dengan ciri khas suara yang melengking.

Motor 2 tak ini sangat terkenal dengan sebutan “motor jambret”. Hal ini tak lepas dari banyak kasus kejahatan seperti halnya maling, jambret dan perampok yang pelakunya memakai RX King yang memiliki kecepatan di atas rata-rata motor pada era kejayaannya.

Motor ini sendiri sudah berhenti diproduksi, tepatnya tahun 2008 lalu. Alasannya adalah karena motor ini sudah tidak sesuai dengan standar emisi gas buang.

Motor RX Series generasi pertama yang mengawali sejarah perjalanan RX-king ini diluncurkan pada tahun 1977 dengan spesifikasi mesin 2 tak dan kubikasi hanya sebesar 100 cc saja. Sementara itu, untuk powernya mencapai 11,5 dk dengan tops speednya 110 km/ jam. Pada masanya motor ini sudah termasuk motor dengan kecepatan yang tinggi.

Motor RX Series generasi pertama yang mengawali sejarah perjalanan RX-king ini diluncurkan pada tahun 1977 dengan spesifikasi mesin 2 tak dan kubikasi hanya sebesar 100 cc saja. Sementara itu, untuk powernya mencapai 11,5 dk dengan tops speednya 110 km/ jam. Pada masanya motor ini sudah termasuk motor dengan kecepatan yang tinggi.

Generasi RX king yang satu ini sudah diupgrade dengan spesifikasi mesin 135 cc. Power maksimalnya adalah 17,5. Sedangkan top speednya bisa mencapai 150 km/ jam dan menjadi unggulan pada masa itu.

Motor ini sudah bisa digunakan untuk ngebut di jalan raya. Motor ini juga disebut sebagai CBU dari Jepang, karenanya dibekali kedok lampu. Di pasar Indonesia, RX-K hanya bertahan hingga 1983 saja.

Di tahun 1981, Yamaha meluncurkan RX-S dengan kubikasi sebesar 115 cc. Motor ini didatangkan langsung dari Jepang dan bertahan di pasaran Indonesia hingga tahun 1983.


Motor dari Yamaha ini merupakan upgrade dari RX-S. Untuk spesifikasi pada mesinnya masih sama seperti halnya yang digunakan pada RX-S.


Motor ini bisa disebut sebagai salah satu motor legendaris di Indonesia bahkan masih banyak dicari kolektor saat ini. Nama Cobra sendiri diambil dari bentuk setang dan tangkinya yang unik.

Berikut ini adalah spesifikasi dari RX-King Cobra yang satu ini : mesin 135 cc dengan power maksimal yang dimiliki mencapai 18,2 dk. Motor ini memiliki torsi 15,1 Nm pada 8.000 RPM.



jika dibandingkan dengan RX King, maka perbedaannya adalah pada panjang langkah silinder dimana RX Z mencapai 56×54 mm. Sedangkan pada motor Yamaha RX-King mencapai 58×50 mm



Sejarah motor Honda GL 100

 Mengenang Sang Legenda Honda GL 100


 

GL100 memasuki panggung motor Indonesia pada tahun 1979, dan sejak itu, kehadirannya tak terlupakan di jalan raya. Meski telah berusia, pesona dan daya tariknya masih mengundang minat, memperlihatkan betapa kuatnya penggemar setia motor legendaris ini.

Desain yang Abadi

Desain tangguhnya membawa sentuhan klasik yang mengingatkan pada era kejayaan motor-motor Honda. Tangki yang besar dan memanjang, serta sasis ramping yang menyerupai capung, memberikan identitas unik pada GL100. Dengan bobot kosong hanya 98 kg, memberikan sensasi mengendarai yang ringan namun tetap kokoh.

Detail klasik terpancar dari lampu depan bulat dan speedometer yang menambah pesona retro-nya. Lampu sein yang melekat pada behel belakang memberikan sentuhan klasik yang tak terlupakan.

Pada tahun 1982, terjadi evolusi desain dengan penampilan yang lebih modern. Perubahan dari lampu depan bulat menjadi kotak, speedometer, dan kaca spion menghadirkan tampilan yang lebih segar. Lampu sein yang diposisikan pada dudukan belakang memperkuat kesan modern pada masanya.

Performa yang Mengesankan

Meski tidak mempersembahkan teknologi canggih masa kini, GL100 tetap menjadi pilihan utama dengan perawatan yang mudah dan performa yang tangguh untuk digunakan setiap hari. Didukung oleh mesin 1 silinder berkapasitas 105 cc dengan tipe OHC dan sistem pendinginan udara, serta transmisi 5 percepatan, GL100 memang menjadi pilihan andalan sebagai kendaraan tumpangan yang kokoh dan andal pada zamannya.

Dengan kapasitas tangki sebesar 11,5 liter, GL100 menghasilkan daya maksimum sekitar 12 daya kuda/10.000 rpm dan torsi maksimum mencapai 8,3 Nm/8.500 rpm. Kinerja yang mengesankan untuk motor dengan usia yang telah mengukir sejarah.

Harga dan Kenangan

Saat ini, Honda GL100 telah berhenti diproduksi sejak tahun 1979. Kini, yang dapat ditemui hanya varian bekasnya saja. Dalam kondisi utuh dan terawat baik, harga untuk Honda GL100 bekas berkisar antara Rp6 juta hingga Rp7 jutaan.

Meski telah berusia, GL100 tetap menawarkan kenyamanan dan pengalaman berkendara yang tak terlupakan di jalanan Indonesia. Keindahannya yang klasik dan ketangguhannya masih mampu memberikan nostalgia yang menghangatkan.

Selasa, 15 Oktober 2024

P.BRENGGGGGGGG

 

Mengenang Sejarah Yamaha F1ZR Hingga Menjadi Harta Karun

Motor 2-tak kembali digandrungi. Penampakannya pun bisa Anda lihat sendiri, baik di daerah maupun Ibukota. Wajarlah jika sekarang banyak motoris yang latah memburunya. Salah satu model yang juga dicari, Yamaha F1ZR. Maklum saja, toh kuda besi ini punya cukup banyak cerita. Meskipun masa produksinya hanya berlangsung sekitar 8 tahun. Namun, tak ada salahnya jika kita sedikit bernostalgia dengan bebek mungil bertenaga ini.

Generasi Pertama Force 1 (1992-1994)

Yamaha F1ZR

Perjalanan bebek sport ini dimulai pada 1992. Kala itu Yamaha Indonesia yang masih berdiri dengan entitas PT Yamaha Motor Kencana Indonesia (YMKI), meluncurkan Yamaha Force 1 (F1). Diposisikan sebagai penerus Yamaha Alfa. Secara desain, tentu dibuat lebih modis dan aerodinamis. Kendati begitu, dia masih menggunakan sistem pendingin YPCS (Yamaha Performance Cooling System). Teknologi yang lebih dulu diterapkan terhadap pendahulunya. Termasuk penggunaan pelek jari-jari dan rem teromol depan-belakang. Sebaran tipe ini berlangsung selama 3 tahun (hingga 1994).

Kemunculan Yamaha F1Z (1996)

Di tahun yang sama, mereka merilis Yamaha F1Z. Embel-embel Z di situ nyatanya hanya mendapatkan ubahan minim. Bentuk tubuhnya pun tak ada perubahan. Hal baru cuma terletak pada sektor kaki-kaki depan. Pihak pabrikan hanya memasangkan cakram depan, sebagai bagian perangkat penghenti lajunya. Cuma ada opsi bagi pemilik uang lebih saat itu. YMKI turut merilis Yamaha F1Z Special Edition, tepatnya pada 1996. Perbedaannya juga tidak banyak. Cuma ada behel pegangan di jok belakang dan penambahan aksen krom di beberapa bagian.

Menariknya, generasi terakhir F1Z mengadopsi transmisi full clutch. Sudah menggunakan kopling tangan manual untuk melakukan perpindahan gigi. Anehnya, F1Z generasi kedua umurnya hanya setahun. Khusus untuk F1Z kopling, rasanya dijadikan subjek untuk melihat ketertarikan pasar. Di tahun berikutnya Yamaha merilis varian lanjutan Force One.

Yamaha F1ZR Terlahir dengan Kopling Banci (1997-2004)

Yamaha F1ZR

Setahun berikutnya, Yamaha Indonesia membuat terobosan dengan meluncurkan F1ZR. Secara kasat mata jelas tersaji lewat tubuh yang kian sporty. Terlihat dari bentuk tubuh yang meruncing di bagian depan. Desain headlamp, juga lebih besar ketimbang versi F1Z. Di sini, dia juga sudah memakai kopling semi otomatis. Lantaran bertugas meringankan pergantian gigi saja. Padahal, perpindahan gigi tetap bisa dilakukan tanpa harus menarik tuas di stang kiri tadi. Merujuk pada model sebelumnya, F1ZR dengan kopling banci ini sepertinya menjadi bahan pembanding bagi F1Z versi manual clutch.

Pilihan pun akhirnya jatuh ke kopling manual. Terapan itu menjadi bagian dari evolusi Yamaha F1ZR. Dirilis pada 2000, seraya dengan perubahan nama pemegang merek dari YMKI menjadi PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM). Tubuhnya masih mirip, tapi tongkrongannya lebih keren berkat aplikasi pelek palang berbahan alloy. Wujud ini menjadi puncak dari rangkaian perubahannya, semenjak generasi Force One.

Yamaha F1ZR Livery Balap Menjadi Harta Karun

Namun F1ZR tak sekadar menjual tampang. Performa tunggangan Garputala juga makin populer. Utamanya ketika dia dijadikan kuda pacu bagi pembalap-pembalap nasional. Beberapa nama besar di era 2000-an seperti Ahmad Jayadi, Hendriansyah hingga Harlan Fadillah sukses merajai event road race Tanah Air. Bahkan nama panggung Hendriansyah sebagai Dewa Road Race pun tak luput dari keandalan Yamaha F1ZR.

Soal spesifikasi, Yamaha F1ZR dibekali mesin satu silinder 2-tak berkapasitas 110,4 cc. Racikan pada jantung pacu seperti bore x stroke: 52,0 x 52,0 mm, rasio kompresi: 7,1:1 hingga karburator Mikuni (VM 20 X 1), memudahkannya untuk mengail tenaga sebesar 11,8 Hp di 7.500 RPM. Sementara torsi maksimal yang dihasilkan 10,7 Nm pada 6.500 RPM. Disalurkan melalui transmisi 4 percepatan. Kemampuannya ini juga ditunjang dimensi nan kompak (P x L x T: 1.870 x 670 x 1.040 mm). Serta bobot ringan, 95 kg saja.

Otomatis pamornya menanjak. Kondisi ini dimanfaatkan YIMM untuk menghadirkan edisi terbatas. Sebagai contoh, perilisan Yamaha F1ZR Caltex Edition pada 2001. Inspirasinya berasal dari tunggangan Ahmad Jayadi dan Roy Adriyanto, yang saat itu bernaung di tim balap Yamaha Caltex. Peredarannya pun masih terasa hingga 2002. Harlan Fadillah juga memakai baju balap serupa, ketika membalap bersama tim Caltex Yamaha Bio racing.

Inisiatif Yamaha Indonesia menawarkan edisi spesial juga masih dilakoni pada 2003. Diwujudkan saat mengenalkan Yamaha F1ZR Marlboro Edition. Hingga akhirnya perjalanan F1ZR terhenti pada 2004. Pihak pabrikan memutuskan untuk melakukan diskontinyu terhadap salah satu legenda motor 2-tak ini. Meski begitu, sekarang F1ZR masih banyak dicari. Pun demikian dengan edisi balapnya. Walaupun harga jualnya dipatok tinggi.

Yamaha F1ZR

Tapi urusan satu itu bukan jadi soal. Apalagi jika sudah menyangkut nostalgia. Termasuk pula alasan Eric Saputra untuk meminang keduanya. "Saya membeli F1ZR Marlboro dengan harga Rp 12,5 juta. Sedangkan F1ZR Caltex Rp 16 juta. Khusus yang Caltex memang mahal. Tapi sangat worth it. Kondisinya mulus dan semuanya berfungsi, sampai sein saja masih bunyi. Ya, hitung-hitung nostalgia waktu saya kecil. Dulu motor-motor ini cuma bisa dilihat. Saat itu, belum boleh bawa motor karena masih SMP. Setelah punya, sekarang sering saya pakai untuk ke kantor atau latihan balap," tutur Eric kepada kami. Bagi Anda yang masih menyimpannya, selamat Anda memiliki harta karun!

Sumber Foto: Istimewa, Facebook (Indonesia Yamaha Force1-F1z-F1ZR & Crypton-vega-vega R-vega ZR)